Sekitar bulan Maret kemarin kami mendapat undangan dari keluarga Simanjuntak ke Danau Toba. Kebetulan papa juga sedang ada tugas ke Medan. Jadi sambil menyelam minum air.
Setelah menginap di Medan dan papa menyelesaikan tugasnya, kami bertolak ke Danau Toba. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 – 4 jam. Melewati perbukitan, hutan, jurang, dan jalan yang meliuk-liuk. Di perjalanan kami sempat makan siang di sebuah warung yang menyajikan burung goreng. Rasanya gurih dan lezat. Konon ini warung satu-satunya yang menyajikan menu burung goreng di daerah tsb.
Lewat tengah hari kami tiba di tepi Danau Toba. Sambil menunggu kapal yang akan membawa kami ke Pulau Samosir, kami jalan-jalan di sekitar pelabuhan kecil tsb. Udaranya sangat panas. Kami mampir di sebuah warung untuk minum. Warung ini menyajikan menu ikan hasil danau. Ada 2 meja yang terisi tamu dan mereka bicara dalam bahasa Jawa. Rasanya jadi tidak seperti di Tanah Batak tapi di warung Hik Solo.....
Kapal yang ditunggu tiba. Kami masuk dan mendapati banyak penjual makanan khususnya telor bebek. Rupanya pada saat kapal akan berangkat banyak anak-anak yang berenang di sekitar kapal dan mereka berebutan telor bebek yang dilempar penumpang dari atas kapal.
Kami naik ke ruang duduk penumpang di lantai dua lewat tangga yang sempit dan curam. Di ruang tsb telah menunggu beberapa anak yang menyanyikan lagu-lagu Batak tanpa iringan alat musik. Suara mereka lantang dan cukup menghibur. Harus diakui musikalitas orang Batak memang tinggi. Anak-anak tsb menyanyi dalam 2-3 suara tanpa fals. Meski kami tidak mengerti artinya tapi musik adalah bahasa universal sehingga kami tetap dapat menikmatinya.
Pemandangan sekitar danau sangat indah. Kami berdiri di tepi jendela dan memuaskan mata memandang birunya air dan hijaunya pohon-pohon di kejauhan. Angin yang bertiup membawa aroma amis ikan yang khas... Sesekali terlihat ikan berloncatan di sekitar kapal kami..
Kapal mendarat di Pulau Samosir setelah sekitar 1 jam mengapung di danau. Kami melanjutkan perjalanan melewati sawah-sawah dan rumah penduduk yang cukup jarang. Tapi kami melihat banyak gereja di pulau ini. Mungkin karena penduduknya mayoritas Kristen Protestan.
Setelah melewati jalan yang berkelok-kelok akhirnya sampai juga kami di penginapan. Tetapi tuan rumah dan tamu lain sedang tidak ada karena sejak pagi mereka pergi tour ke pulau-pulau di sekitar danau. Oya, kami memang terlambat datang sehari dari undangan karena Papa harus menyelesaikan tugasnya di Medan. Jadi kami melewatkan sesi tour antar pulau tsb. Tetapi kami tidak menyesal dan justru beruntung karena terus terang saya tidak dianjurkan terpapar matahari dalam waktu cukup lama.
Sambil menunggu mereka pulang kami menghabiskan sore di tepi danau. Karena penginapan yang luas itu memang berada di bibir danau. Udara Samosir lebih sejuk. Rasanya pengin nyemplung ke danau tapi tak bisa berenang.... Matahari mulai terbenam ketika peserta tour antar pulau tiba.
Malamnya kami makan bersama di halaman villa. Bermacam hidangan lezat terhidang. Rio sangat suka dengan udang goreng tepung. Dan ia menghabiskan udang banyak sekali..... kenyang ah...
Selesai makan kami berpindah ke ruang aula. Acara ramah tamah dan penyerahan ulos kepada para tamu. Setelah ”di-ulosi” kami melanjutkan dengan bernyanyi dan dansa bersama. Rio peserta terkecil yang menyedot perhatian....
Paginya kami bersiap kembali ke Medan dengan kapal sewaan yang sudah bersandar di depan penginapan. Di atas kapal itulah kami berpesta durian sepanjang perjalanan. Durian yang manis dan legit kami santap sepuasnya. Tak terasa kapal merapat di dermaga. Dan kami siap kembali ke Medan. Selamat tinggal Danau Toba yang indah...
Dalam perjalanan ke Medan kami mampir beli oleh-oleh di Siantar. Yang kami beli diantaranya adalah Tang-tang, teng-teng, Ting-ting, Tong-tong, Pang-pang, Ping-ping, Pong-pong,.....dst. Ini bukan bercanda tapi beneran. Oleh2 ini terbuat kacang dengan segala variasinya. Mulai dari kacang utuh, pecah sedikit, setengah hancur sampai hancur beneran. Kacang ini diolah dengan tambahan gula, wijen, dll.
Sesampai di Medan kami sempat mampir ke Belawan. Belawan ini konon terkenal dengan harga barang-barangnya yg miring. Saya lihat yang banyak adalah barang-barang keramik, hiasan dinding, dan semacamnya. Karena saya bukan tipe gila belanja dan tidak hobi mengoleksi barang keramik jadi ya hanya melihat-lihat saja sambil menunggu ibu-ibu lain belanja.
Kami menginap semalam di Medan sebelum kembali ke Jakarta. Kami sempat makan malam di pusat kota ( lupa nama tempatnya ). Seperti di alun-alun, tempatnya luas dan terbuka. Ramai sekali. Bahkan harus menunggu pesanan cukup lama. Padahal malam itu bukan akhir pekan.
Pagi hari kami berpisah. Ada yg ke Palembang, Malaysia dan Jakarta.
Selamat tinggal Medan, sampai bertemu lagi.
Horas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar