Kamis, 13 Desember 2007

Bali - Pulau Dewata

Lebaran kemarin kami sempat jalan-jalan ke Bali meski hanya beberapa hari dan tidak banyak tempat yang disinggahi. Tetapi cukuplah untuk mengisi sisa libur lebaran. Kami menginap di Sanur. Cottage yang kami tempati terletak di bibir pantai. Suara debur ombaknya sungguh menggoda. Saya suka pantai, laut,  burung-burung camar, pasir, aroma laut yang terbawa angin.... Pokoknya semua yang berbau laut saya suka. Meskipun beberapa tahun belakangan ini saya tidak leluasa lagi bermain di pantai karena hubungan saya dengan sinar matahari yang tidak harmonis...

 

Beberapa tempat yg kami datangi seperti Tanjung Benoa di Nusa Dua, Pulau Penyu, Kuta, Jimbaran, Celuk, Gianyar, ...dan mana lagi ya... mampir juga ke beberapa Pura. Lewat kebun jeruk....subak yang terkenal itu... melintas di desa-desa yang tidak tau namanya tapi selalu ada karya seni di depan rumahnya...

 

Tanjung Benoa adalah surga bagi pecinta permainan maupun olahraga air.  Terletak di daerah Nusa Dua. Pantainya berpasir putih. Lautnya tenang.  Sehingga cocok sekali untuk berekreasi air. Tapi macet dan susah cari parkir...  Siang itu ramai sekali.. pokoknya hiruk pikuk sekali... Rio segera tertarik pada penjual layang-layang besar... sedikit tawar-menawar lalu Rio dan papa asyik bermain layang-layang.. Rio tidak tertarik dengan permainan air... agak beruntung juga karena saya agak kuatir  sebab permainan air itu kayaknya lebih cocok untuk remaja dan dewasa. Misalnya Parasailing, Jetski, Banana boat, Flying fish, Snorkling, Scuba diving,..... Tetapi kami tertarik pergi ke Pulau Penyu naik Glass bottom boat yaitu perahu yang di dasarnya ada kaca bening sehingga sambil berlayar menuju P. Penyu bisa melihat pemandangan bawah laut dan ikan-ikan hias. Di perahu disediakan roti untuk memberi makan ikan-ikan. Sayangnya banyak pengunjung yang membuang plastik pembungkus roti ke laut. Selain menyebabkan pencemaran juga merusak pemandangan. Waktu di perahu Rio sempat menangis ketakutan karena sebuah speedboat dengan kecepatan tinggi lewat dengan jarak terlalu dekat sehingga air menyembur ke arah kami dan gelombang yang ditimbulkannya membuat perahu oleng kesana-kemari. Papa dan tukang perahu basah kuyub. Benar-benar mengagetkan dan bikin jantung hampir copot. Sedangkan Pulau Penyu yang kami tuju adalah tempat penangkaran penyu, hewan langka yang dilindungi. Bisa dilihat telur-telur penyu, penyu remaja sampai penyu dewasa.  Ada juga binatang lain seperti ular, burung, dll. Boleh berfoto dengan binatang di sana.

 

Kuta yang tersohor dengan sunsetnya itu sungguh macet tak terkira..ra..ra...ra..ra... Beruntung pengemudi kami pernah bersekolah di daerah Kuta sehingga kami bisa menyusuri jalan-jalan tikus dan mendapat parkir di tepi pantai yang sungguh sangat padat sekali... dua mobil lain yang satu rombongan dengan kami terjebak macet dan parkir di tempat yang jauh.

 

Sunsetnya masih indah...seperti beberapa tahun lalu waktu mampir ke sana. Pengepang rambut juga masih banyak..tukang tatoo bertebaran...penjual pernak-pernik berseliweran...dan.. ini dia...tukang pijat! Sementara Rio bermain pasir, saya dan papa berpijit-ria.... lumayan juga.. selesai pijat kami bertato-ria...

 

Saya sempat mampir ke Pizza Hut. Pelayannya sangat ramah padahal saya tidak makan di situ, hanya numpang ke toilet doang. Waktu naik ke lantai dua ada pemandangan yang.... ya ampun... sekitar belasan pria bule mengelilingi meja menyantap pizza dengan bertelanjang dada semuaaaa.....hanya memakai kolor doang.... bukan pemandangan biasa untuk saya...

 

Jimbaran terkenal dengan restoran tepi pantainya terutama di malam hari. Seperti biasa, penuh dan macet. Menu yang dihidangkan adalah seafood. Rio berpesta udang di sana, setelah sebelumnya sambil menunggu pesanan ia sibuk dengan kaki kursinya yang melesak ke dalam pasir....

 

Celuk adalah pusat kerajinan perak di Bali. Terletak di Kab. Gianyar dengan penduduknya 99% perajin perak. Perak Bali dengan kadar perak 92.5% ini terkenal sampai ke manca negara. Sepanjang jalan yang kami lewati berjajar galeri/toko-toko  yang memajang hasil kerajinan perak. Kami sempat mampir ke salah satu workshop dan melihat proses pembuatan perhiasan perak. Saya sangat menikmati wisata di kota kerajinan ini karena cocok banget dengan kesukaan saya membuat pernak-pernik aksesoris. Sempat membeli beberapa manik-manik untuk bahan pernak-pernik saya.

 

Dari Celuk menuju Gianyar di sepanjang jalan berderet-deret toko yang memajang berbagai hasil kerajinan Bali. Bingung juga, apa ya yang tidak dijadikan media seni oleh orang Bali? Mulai dari batu, kayu, bambu, tulang binatang, kaca, batok kelapa, kerang, kulit telur, belum lagi bahan-bahan lain... Sempat terpikir untuk tinggal di Bali kelak dan menghabiskan waktu dengan menikmati alam dan karya-karya seni yang unik dan cantik.... Kami juga sempat mampir ke pasar seni Gianyar.  Di sini barang ditawarkan dengan harga sangat tinggi. Lain dengan pasar seni Sukawati, harganya lebih murah dan masih bisa ditawar lagi. Berbagai kerajinan Bali ada di sini. Tetapi harus tetap berhati-hati dan teliti dalam membeli karena kualitasnya agak kurang. Kadang ukuran tidak sesuai labelnya atau ada cacat produksi.

 

Kami melewati subak/sistem pertanian di Bali yang terkenal itu, semacam terasering – lahan bertingkat untuk menanam padi. Setelah subak kami menemui kebun jeruk di kanan kiri jalan menuju ke Kintamani.  Jeruk Bali ini buahnya kecil dan manis. Rasanya khas. Lebih segar dari jeruk Medan. Udara di Kintamani cukup dingin karena letaknya di lereng gunung. Menurut pengemudi kami daerah ini merupakan daerah tertinggi di Bali.  Waktu pertama ke Kintamani dulu lereng gunung kelihatan hijau subur dan terawat. Tapi kini kelihatan kurang terawat dan tidak lagi sehijau dulu karena bekas gunung meletus menyisakan lahan gundul berwarna hitam. Waktu kami datang Kintamani sangat sepi. Dan kami dikejar-kejar penjaja kaos, pensil, patung, dan tukang tato. Bahkan saat akan  masuk mobil pun masih dipepet juga. Kaos yg ditawarkan pun harganya terus melorot, dari Rp 100.000 (6 pot) sampai Rp 50.000 (6 pot) padahal kami tidak menawar karena memang tidak berminat. Jumlah wisatawan yang terus merosot membuat penduduk sekitar kesulitan mencari nafkah sehingga mereka setengah memaksa turis membeli barang dagangan mereka. Padahal cara itu justru membuat turis tidak nyaman dan enggan membeli.

 

Sempat mengunjungi beberapa pura...namun dua hari berturut-turut kami tidak jadi melihat pertunjukan tari karena terlambat sehingga tidak bisa masuk. Pengemudi kami salah informasi tentang waktu pertunjukan. Sebenarnya kami masih punya waktu untuk berkeliling tapi selama di Bali Papa agak terganggu pencernaannya jadi kami banyak tinggal di cottage juga. Mungkin papa capek dan kurang cocok makanan Bali yg berbumbu ( rata-rata memakai kunyit). Rasanya memang kurang cocok di lidah kami. Tapi kami tetap mencoba berbagai makanan khas Bali. Dan meskipun tidak berkeliling kami tetap dapat menikmatinya. Rio asyik bermain di kolam renang ( ssst, Rio baru belajar renang...) papa bisa istirahat dan saya bisa ber-spa ria....

2 komentar:

Riski Hapsari mengatakan...

waoo... lengkap banget nih cerita liburannya...
bisa jadi panduan kalau ntar ke bali lagi...
habis biasanya kalo kesana ya seputar kuta... sukowati... sukowati lagi... sukowati lagi... hehehehe... belanja mulu...

Yoanna Candra mengatakan...

hai ki...ketahuan nih hobinya shoping mulu...^_~
thx ya dah mampir...