
Selasa, 25 Desember 2007
Sabtu, 22 Desember 2007
Liburan tertunda
Libur Natal & akhir tahun ini kami berencana menghabiskannya di
Sebenarnya jika Rio tidak sakit kami akan ke Bandung dulu sebelum ke Palembang. Tapi karena Rio sakit kami menggantinya dengan berlibur di kamar. Nemenin Rio tidur sepanjang hari.... jadi bingung juga sebenarnya siapa yang sakit …^_^
Apapun itu kami tetap bersyukur... telah dianugerahi begitu banyak berkat sepanjang tahun ini. Kesehatan, rejeki dan cinta yang berlimpah. Keluarga yang penuh kehangatan dan kasih sayang. Teman-teman yang baik dan bersahabat. Kerikil-kerikil yang bisa terlewati tanpa melukai. Dan semuanya...semuanya yang telah kami terima.... yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan... Terimakasih Tuhan !
HAPPY HOLIDAY.... !
Kamis, 13 Desember 2007
Bali - Pulau Dewata
Lebaran kemarin kami sempat jalan-jalan ke Bali meski hanya beberapa hari dan tidak banyak tempat yang disinggahi. Tetapi cukuplah untuk mengisi sisa libur lebaran. Kami menginap di Sanur. Cottage yang kami tempati terletak di bibir pantai. Suara debur ombaknya sungguh menggoda. Saya suka pantai, laut, burung-burung camar, pasir, aroma laut yang terbawa angin.... Pokoknya semua yang berbau laut saya suka. Meskipun beberapa tahun belakangan ini saya tidak leluasa lagi bermain di pantai karena hubungan saya dengan sinar matahari yang tidak harmonis...
Beberapa tempat yg kami datangi seperti Tanjung Benoa di Nusa Dua, Pulau Penyu, Kuta, Jimbaran, Celuk, Gianyar, ...dan mana lagi ya... mampir juga ke beberapa Pura. Lewat kebun jeruk....subak yang terkenal itu... melintas di desa-desa yang tidak tau namanya tapi selalu ada karya seni di depan rumahnya...
Tanjung Benoa adalah surga bagi pecinta permainan maupun olahraga air. Terletak di daerah Nusa Dua. Pantainya berpasir putih. Lautnya tenang. Sehingga cocok sekali untuk berekreasi air. Tapi macet dan susah cari parkir... Siang itu ramai sekali.. pokoknya hiruk pikuk sekali... Rio segera tertarik pada penjual layang-layang besar... sedikit tawar-menawar lalu Rio dan papa asyik bermain layang-layang.. Rio tidak tertarik dengan permainan air... agak beruntung juga karena saya agak kuatir sebab permainan air itu kayaknya lebih cocok untuk remaja dan dewasa. Misalnya Parasailing, Jetski, Banana boat, Flying fish, Snorkling, Scuba diving,..... Tetapi kami tertarik pergi ke Pulau Penyu naik Glass bottom boat yaitu perahu yang di dasarnya ada kaca bening sehingga sambil berlayar menuju P. Penyu bisa melihat pemandangan bawah laut dan ikan-ikan hias. Di perahu disediakan roti untuk memberi makan ikan-ikan. Sayangnya banyak pengunjung yang membuang plastik pembungkus roti ke laut. Selain menyebabkan pencemaran juga merusak pemandangan. Waktu di perahu Rio sempat menangis ketakutan karena sebuah speedboat dengan kecepatan tinggi lewat dengan jarak terlalu dekat sehingga air menyembur ke arah kami dan gelombang yang ditimbulkannya membuat perahu oleng kesana-kemari. Papa dan tukang perahu basah kuyub. Benar-benar mengagetkan dan bikin jantung hampir copot. Sedangkan Pulau Penyu yang kami tuju adalah tempat penangkaran penyu, hewan langka yang dilindungi. Bisa dilihat telur-telur penyu, penyu remaja sampai penyu dewasa. Ada juga binatang lain seperti ular, burung, dll. Boleh berfoto dengan binatang di sana.
Kuta yang tersohor dengan sunsetnya itu sungguh macet tak terkira..ra..ra...ra..ra... Beruntung pengemudi kami pernah bersekolah di daerah Kuta sehingga kami bisa menyusuri jalan-jalan tikus dan mendapat parkir di tepi pantai yang sungguh sangat padat sekali... dua mobil lain yang satu rombongan dengan kami terjebak macet dan parkir di tempat yang jauh.
Sunsetnya masih indah...seperti beberapa tahun lalu waktu mampir ke sana. Pengepang rambut juga masih banyak..tukang tatoo bertebaran...penjual pernak-pernik berseliweran...dan.. ini dia...tukang pijat! Sementara Rio bermain pasir, saya dan papa berpijit-ria.... lumayan juga.. selesai pijat kami bertato-ria...
Saya sempat mampir ke Pizza Hut. Pelayannya sangat ramah padahal saya tidak makan di situ, hanya numpang ke toilet doang. Waktu naik ke lantai dua ada pemandangan yang.... ya ampun... sekitar belasan pria bule mengelilingi meja menyantap pizza dengan bertelanjang dada semuaaaa.....hanya memakai kolor doang.... bukan pemandangan biasa untuk saya...
Jimbaran terkenal dengan restoran tepi pantainya terutama di malam hari. Seperti biasa, penuh dan macet. Menu yang dihidangkan adalah seafood. Rio berpesta udang di sana, setelah sebelumnya sambil menunggu pesanan ia sibuk dengan kaki kursinya yang melesak ke dalam pasir....
Celuk adalah pusat kerajinan perak di Bali. Terletak di Kab. Gianyar dengan penduduknya 99% perajin perak. Perak Bali dengan kadar perak 92.5% ini terkenal sampai ke manca negara. Sepanjang jalan yang kami lewati berjajar galeri/toko-toko yang memajang hasil kerajinan perak. Kami sempat mampir ke salah satu workshop dan melihat proses pembuatan perhiasan perak. Saya sangat menikmati wisata di kota kerajinan ini karena cocok banget dengan kesukaan saya membuat pernak-pernik aksesoris. Sempat membeli beberapa manik-manik untuk bahan pernak-pernik saya.
Dari Celuk menuju Gianyar di sepanjang jalan berderet-deret toko yang memajang berbagai hasil kerajinan Bali. Bingung juga, apa ya yang tidak dijadikan media seni oleh orang Bali? Mulai dari batu, kayu, bambu, tulang binatang, kaca, batok kelapa, kerang, kulit telur, belum lagi bahan-bahan lain... Sempat terpikir untuk tinggal di Bali kelak dan menghabiskan waktu dengan menikmati alam dan karya-karya seni yang unik dan cantik.... Kami juga sempat mampir ke pasar seni Gianyar. Di sini barang ditawarkan dengan harga sangat tinggi. Lain dengan pasar seni Sukawati, harganya lebih murah dan masih bisa ditawar lagi. Berbagai kerajinan Bali ada di sini. Tetapi harus tetap berhati-hati dan teliti dalam membeli karena kualitasnya agak kurang. Kadang ukuran tidak sesuai labelnya atau ada cacat produksi.
Kami melewati subak/sistem pertanian di Bali yang terkenal itu, semacam terasering – lahan bertingkat untuk menanam padi. Setelah subak kami menemui kebun jeruk di kanan kiri jalan menuju ke Kintamani. Jeruk Bali ini buahnya kecil dan manis. Rasanya khas. Lebih segar dari jeruk Medan. Udara di Kintamani cukup dingin karena letaknya di lereng gunung. Menurut pengemudi kami daerah ini merupakan daerah tertinggi di Bali. Waktu pertama ke Kintamani dulu lereng gunung kelihatan hijau subur dan terawat. Tapi kini kelihatan kurang terawat dan tidak lagi sehijau dulu karena bekas gunung meletus menyisakan lahan gundul berwarna hitam. Waktu kami datang Kintamani sangat sepi. Dan kami dikejar-kejar penjaja kaos, pensil, patung, dan tukang tato. Bahkan saat akan masuk mobil pun masih dipepet juga. Kaos yg ditawarkan pun harganya terus melorot, dari Rp 100.000 (6 pot) sampai Rp 50.000 (6 pot) padahal kami tidak menawar karena memang tidak berminat. Jumlah wisatawan yang terus merosot membuat penduduk sekitar kesulitan mencari nafkah sehingga mereka setengah memaksa turis membeli barang dagangan mereka. Padahal cara itu justru membuat turis tidak nyaman dan enggan membeli.
Sempat mengunjungi beberapa pura...namun dua hari berturut-turut kami tidak jadi melihat pertunjukan tari karena terlambat sehingga tidak bisa masuk. Pengemudi kami salah informasi tentang waktu pertunjukan. Sebenarnya kami masih punya waktu untuk berkeliling tapi selama di Bali Papa agak terganggu pencernaannya jadi kami banyak tinggal di cottage juga. Mungkin papa capek dan kurang cocok makanan Bali yg berbumbu ( rata-rata memakai kunyit). Rasanya memang kurang cocok di lidah kami. Tapi kami tetap mencoba berbagai makanan khas Bali. Dan meskipun tidak berkeliling kami tetap dapat menikmatinya. Rio asyik bermain di kolam renang ( ssst, Rio baru belajar renang...) papa bisa istirahat dan saya bisa ber-spa ria....
Rabu, 12 Desember 2007
Rio dan super hero idolanya
Siapa super hero idola Rio ?
BATMAN !
Mengapa kok bukan Superman, Spiderman atau man-man yang lain ?
Sebab hanya Batman yang punya mobil dan peralatan canggih lainnya.
Ya begitulah...
Saking nge-fans ama om Batman sampai-sampai kain batik mama dipakai untuk jubah Batman ala Rio.... Rio cinta Batik... Lebih baik untuk jubah daripada diberikan cuma-cuma pada negeri tetangga......
Rio dan hobi otomotifnya
Rio senang mengamati mobil-mobil yang berseliweran di jalan. Sampai-sampai ia bisa menebak merek mobil hanya dari melihat lampunya saja. Jika kami berada di tempat parkir dan mobil yang parkir di sebelah kami menarik perhatiannya maka ia akan mengintip ke dalam mobil itu. Sesampai di rumah ia akan menggambar apa yang diamatinya tadi.
Rio juga tergila-gila pada Toyota Trueno, mobil jagoan di serial Initial D. Ia sangat ingin sekali memiliki mobil kuno itu, dan suatu saat bisa nge-drift seperti Takumi si jago balap di serial tsb.
Gambar-gambar Rio berkembang sesuai pertumbuhannya. Jika dulu gambarnya sangat sederhana seperti bulat dan kotak saja maka kini di usianya yang ke-7 gambarnya sudah semakin lengkap dan detail. Bukan itu saja, rasa ingin tahunya yang besar membuatnya banyak bertanya. Jadi kami belikan juga majalah otomotif. Kadang saya juga suka iseng cari-cari info untuk nambah pengetahuan. Meski sampai sekarang gak banyak tahu juga......^_^
Lihat saja buku tulisnya Rio juga dihiasi dengan gambar coretannya...pokoknya tiada hari tanpa menggambar.....

ayo peduli...
Pernah dengar tentang penyakit Lupus ?
Jika penasaran mampirlah ke link ini dan Anda akan mengetahui lebih banyak tentang Lupus.
Selasa, 11 Desember 2007
Medan - Danau Toba
Sekitar bulan Maret kemarin kami mendapat undangan dari keluarga Simanjuntak ke Danau Toba. Kebetulan papa juga sedang ada tugas ke Medan. Jadi sambil menyelam minum air.
Setelah menginap di Medan dan papa menyelesaikan tugasnya, kami bertolak ke Danau Toba. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 – 4 jam. Melewati perbukitan, hutan, jurang, dan jalan yang meliuk-liuk. Di perjalanan kami sempat makan siang di sebuah warung yang menyajikan burung goreng. Rasanya gurih dan lezat. Konon ini warung satu-satunya yang menyajikan menu burung goreng di daerah tsb.
Lewat tengah hari kami tiba di tepi Danau Toba. Sambil menunggu kapal yang akan membawa kami ke Pulau Samosir, kami jalan-jalan di sekitar pelabuhan kecil tsb. Udaranya sangat panas. Kami mampir di sebuah warung untuk minum. Warung ini menyajikan menu ikan hasil danau. Ada 2 meja yang terisi tamu dan mereka bicara dalam bahasa Jawa. Rasanya jadi tidak seperti di Tanah Batak tapi di warung Hik Solo.....
Kapal yang ditunggu tiba. Kami masuk dan mendapati banyak penjual makanan khususnya telor bebek. Rupanya pada saat kapal akan berangkat banyak anak-anak yang berenang di sekitar kapal dan mereka berebutan telor bebek yang dilempar penumpang dari atas kapal.
Kami naik ke ruang duduk penumpang di lantai dua lewat tangga yang sempit dan curam. Di ruang tsb telah menunggu beberapa anak yang menyanyikan lagu-lagu Batak tanpa iringan alat musik. Suara mereka lantang dan cukup menghibur. Harus diakui musikalitas orang Batak memang tinggi. Anak-anak tsb menyanyi dalam 2-3 suara tanpa fals. Meski kami tidak mengerti artinya tapi musik adalah bahasa universal sehingga kami tetap dapat menikmatinya.
Pemandangan sekitar danau sangat indah. Kami berdiri di tepi jendela dan memuaskan mata memandang birunya air dan hijaunya pohon-pohon di kejauhan. Angin yang bertiup membawa aroma amis ikan yang khas... Sesekali terlihat ikan berloncatan di sekitar kapal kami..
Kapal mendarat di Pulau Samosir setelah sekitar 1 jam mengapung di danau. Kami melanjutkan perjalanan melewati sawah-sawah dan rumah penduduk yang cukup jarang. Tapi kami melihat banyak gereja di pulau ini. Mungkin karena penduduknya mayoritas Kristen Protestan.
Setelah melewati jalan yang berkelok-kelok akhirnya sampai juga kami di penginapan. Tetapi tuan rumah dan tamu lain sedang tidak ada karena sejak pagi mereka pergi tour ke pulau-pulau di sekitar danau. Oya, kami memang terlambat datang sehari dari undangan karena Papa harus menyelesaikan tugasnya di Medan. Jadi kami melewatkan sesi tour antar pulau tsb. Tetapi kami tidak menyesal dan justru beruntung karena terus terang saya tidak dianjurkan terpapar matahari dalam waktu cukup lama.
Sambil menunggu mereka pulang kami menghabiskan sore di tepi danau. Karena penginapan yang luas itu memang berada di bibir danau. Udara Samosir lebih sejuk. Rasanya pengin nyemplung ke danau tapi tak bisa berenang.... Matahari mulai terbenam ketika peserta tour antar pulau tiba.
Malamnya kami makan bersama di halaman villa. Bermacam hidangan lezat terhidang. Rio sangat suka dengan udang goreng tepung. Dan ia menghabiskan udang banyak sekali..... kenyang ah...
Selesai makan kami berpindah ke ruang aula. Acara ramah tamah dan penyerahan ulos kepada para tamu. Setelah ”di-ulosi” kami melanjutkan dengan bernyanyi dan dansa bersama. Rio peserta terkecil yang menyedot perhatian....
Paginya kami bersiap kembali ke Medan dengan kapal sewaan yang sudah bersandar di depan penginapan. Di atas kapal itulah kami berpesta durian sepanjang perjalanan. Durian yang manis dan legit kami santap sepuasnya. Tak terasa kapal merapat di dermaga. Dan kami siap kembali ke Medan. Selamat tinggal Danau Toba yang indah...
Dalam perjalanan ke Medan kami mampir beli oleh-oleh di Siantar. Yang kami beli diantaranya adalah Tang-tang, teng-teng, Ting-ting, Tong-tong, Pang-pang, Ping-ping, Pong-pong,.....dst. Ini bukan bercanda tapi beneran. Oleh2 ini terbuat kacang dengan segala variasinya. Mulai dari kacang utuh, pecah sedikit, setengah hancur sampai hancur beneran. Kacang ini diolah dengan tambahan gula, wijen, dll.
Sesampai di Medan kami sempat mampir ke Belawan. Belawan ini konon terkenal dengan harga barang-barangnya yg miring. Saya lihat yang banyak adalah barang-barang keramik, hiasan dinding, dan semacamnya. Karena saya bukan tipe gila belanja dan tidak hobi mengoleksi barang keramik jadi ya hanya melihat-lihat saja sambil menunggu ibu-ibu lain belanja.
Kami menginap semalam di Medan sebelum kembali ke Jakarta. Kami sempat makan malam di pusat kota ( lupa nama tempatnya ). Seperti di alun-alun, tempatnya luas dan terbuka. Ramai sekali. Bahkan harus menunggu pesanan cukup lama. Padahal malam itu bukan akhir pekan.
Pagi hari kami berpisah. Ada yg ke Palembang, Malaysia dan Jakarta.
Selamat tinggal Medan, sampai bertemu lagi.
Horas!

